Barasuara dan Suara Musisi Bergema di Synchronize Fest 2026: Ketika Panggung Jadi Ruang Nurani
By SingArena Editorial · · Music News
Barasuara bersama sejumlah musisi Indonesia lain seperti The Changcuters, Efek Rumah Kaca, dan Polka Wars menggunakan panggung Synchronize Fest 2026 untuk menyuarakan keprihatinan atas bencana karhutla yang melanda Kalimantan, Sumatra, dan Papua.
Ketika Panggung Festival Berubah Menjadi Ruang Nurani
Synchronize Fest 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta, kembali menegaskan posisinya sebagai bukan sekadar festival musik biasa. Di hari pertama perhelatannya, panggung-panggung yang biasanya dipenuhi sorak gembira penonton justru bergema dengan suara lantang para musisi yang mengkritik kondisi sosial-politik di Indonesia. Isu utama yang diangkat? Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda Kalimantan, Sumatra, dan Papua.
Fenomena ini bukan hal baru, tetapi setiap kali terjadi, momen seperti ini selalu mengingatkan kita bahwa musisi Indonesia tidak pernah benar-benar bisa memisahkan diri dari realitas sosial di sekitarnya. Dan di antara deretan nama yang bersuara, Barasuara menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian.
Barasuara dan Visual Api yang Menyesakkan
Vokalis Barasuara, Iga Massardi, menjadi salah satu musisi yang paling vokal menyuarakan keresahannya atas karhutla. Saat tampil, Barasuara tidak hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga memanfaatkan videotron di panggung untuk menampilkan visual kepungan api dan asap kebakaran. Sebuah pilihan artistik yang sederhana, namun efektif untuk menyampaikan pesan yang begitu mendalam.
Iga mengaku bahwa dirinya sesak napas memikirkan dampak dari isu lingkungan tersebut. Ia pun berharap agar para pelaku pembakaran hutan segera diadili. Pernyataan ini bukanlah hal yang mengada-ada, mengingat Barasuara memang dikenal sebagai band yang lirik-liriknya kerap mengangkat tema kehidupan sosial, hubungan antarmanusia, serta refleksi pribadi terhadap persoalan di lingkungan sekitar.
Bagi penggemar Barasuara, momen ini terasa seperti kelanjutan alami dari identitas band itu sendiri. Sejak merilis album perdana Taifun pada 2015, band yang beranggotakan Iga Massardi, TJ Kusuma, Gerald Situmorang, Marco Steffiano, Asteriska, dan Puti Chitara ini memang tidak pernah benar-benar lepas dari pembicaraan tentang isu-isu yang lebih besar dari sekadar musik. Lagu-lagu mereka sering kali menjadi cermin dari kegelisahan kolektif, dan panggung Synchronize Fest menjadi tempat yang tepat untuk menyuarakan hal itu secara langsung.
Gelombang Solidaritas dari Panggung Lain
Barasuara tentu tidak sendirian. Di panggung Dynamic Stage, vokalis The Changcuters, Tria Ramadhani, mengajak seluruh penonton memanjatkan doa bersama untuk warga dan wilayah yang terdampak karhutla. Dengan gaya khasnya, Tria bahkan melontarkan kritik keras agar pihak yang sengaja membakar hutan ikut "hilang" — sebuah sindiran tajam yang dibungkus dengan kepedulian.
Kemudian ada The Jansen, band asal Bogor, yang tampil di Forest Stage. Mereka menyoroti isu karhutla di Kalimantan di sela-sela lagu yang mereka bawakan, termasuk lewat pesan visual bertuliskan "Don't lose focus on Karhutla". The Jansen juga menyoroti dampak buruk kabut asap terhadap kondisi sosial dan kesehatan masyarakat. Menariknya, mereka bahkan memajang ijazah personel sebagai bentuk sindiran terhadap susahnya mencari kerja — sebuah isu yang masih sangat relevan di Indonesia.
Melly Goeslaw turut mengajak pengunjung festival untuk melayangkan doa bersama bagi daerah-daerah yang dilanda karhutla, khususnya di Kalimantan. Sementara itu, Efek Rumah Kaca (ERK) membuka Synchronize Fest 2026 dengan keprihatinan serupa. Vokalis Cholil Mahmud mengajak penonton mendoakan para korban dan warga terdampak, serta menyebut situasi karhutla saat ini sangat parah. ERK juga melakukan aksi mengenang aktivis HAM Munir Said Thalib lewat lagu "Di Udara" dan membawakan "Mosi Tidak Percaya" — dua lagu yang memang sarat akan pesan kritik sosial.
Polka Wars, band indie asal Jakarta, juga tidak ketinggalan. Saat tampil di Forest Stage, pemain bas Dega menyinggung kondisi hutan Indonesia. "Hari ini kita ada di Forest Stage, dan mungkin gue mau ngingetin, udah pada tahu kalau Indonesia lagi nggak baik-baik aja, dan forest (hutan) kita juga lagi kayak gitu," tuturnya.
Barasuara dan Perjalanan Musik yang Selalu Berbicara
Untuk memahami mengapa momen di Synchronize Fest 2026 ini terasa begitu bermakna, kita perlu melihat kembali perjalanan Barasuara. Band ini awalnya berangkat dari keinginan Iga Massardi untuk membuat proyek solo dari lagu-lagu ciptaannya sendiri. Namun, niat itu berubah arah ketika ia justru lebih tertarik mengerjakannya bersama sebuah band. Dari situ, ia mengajak TJ Kusuma, Marco Steffiano, dan Asteriska untuk bergabung. Pandu Fuzztoni (gitaris Morfem) sempat mengisi posisi bass, tetapi karena jadwalnya padat, posisinya digantikan oleh Gerald Situmorang. Setelah tampil perdana di Kafe TokoVe milik Iga di kawasan Kemang, Jakarta, Puti Chitara pun melengkapi line-up.
Sejak awal, Barasuara memang dikenal lewat penampilan langsungnya yang energik. Mereka telah banyak berpartisipasi dalam berbagai acara dan festival musik di Indonesia, menjadikan panggung sebagai salah satu aspek terpenting dalam perjalanan karier grup. Di atas panggung, penonton bisa merasakan kekuatan permainan musik kolektif serta interaksi antaranggota band yang begitu khas.
Salah satu keunikan Barasuara ketika manggung di periode awal adalah penampilan Iga Massardi yang konsisten mengenakan baju batik dan menata rambutnya dengan rapi. Ia menyebut bahwa itu adalah caranya untuk melestarikan budaya Indonesia. Namun sejak 2019, ciri khas itu mulai ditinggalkan dan diganti dengan pakaian serba hitam — sebuah perubahan yang mungkin mencerminkan pendewasaan artistik band ini.
Dari sisi musikalitas, Barasuara memadukan berbagai elemen seperti rock alternatif, pop, funk, dan musik eksperimental. Karakteristik utama mereka terletak pada penggunaan beberapa lapisan vokal, permainan ritme yang kompleks, serta aransemen lagu yang menggabungkan unsur keras dan melodis. Kombinasi inilah yang membuat Barasuara sulit untuk dikotakkan ke dalam satu genre tertentu.
Setelah Taifun pada 2015, Barasuara melanjutkan perjalanan dengan merilis album kedua berjudul Pikiran dan Perjalanan pada 2019. Kemudian pada 2022, mereka merilis album ketiga, Jalaran Sadrah, yang memperlihatkan perubahan pendekatan musikal namun tetap mempertahankan karakter utama grup dalam menggabungkan energi rock dan elemen eksperimental.
Musisi sebagai Cermin Zaman
Apa yang terjadi di Synchronize Fest 2026 bukanlah sekadar aksi panggung sesaat. Ini adalah pengingat bahwa musisi Indonesia, termasuk Barasuara, memiliki peran penting sebagai cermin zaman. Mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga menyuarakan hal-hal yang sering kali luput dari perhatian publik. Isu karhutla yang mereka angkat adalah persoalan nyata yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, lingkungan, dan masa depan bersama.
Bagi Barasuara sendiri, momen ini terasa seperti penegasan bahwa perjalanan musik mereka tidak pernah lepas dari kepedulian sosial. Dari lirik-lirik yang reflektif hingga aksi panggung yang berani, band ini terus membuktikan bahwa musik bisa menjadi medium yang kuat untuk menyuarakan keresahan. Dan di tengah riuhnya festival musik, suara-suara seperti ini adalah pengingat bahwa hiburan dan kesadaran sosial bisa berjalan beriringan.
Ke depannya, menarik untuk melihat bagaimana Barasuara akan terus menggunakan panggungnya. Apakah isu-isu lingkungan dan sosial akan semakin sering muncul dalam karya-karya mereka? Ataukah ini akan menjadi bagian dari identitas live performance mereka? Yang jelas, Synchronize Fest 2026 telah mencatat satu babak penting dalam perjalanan Barasuara — bukan hanya sebagai band yang energik di atas panggung, tetapi juga sebagai suara yang peduli terhadap lingkungan dan masyarakatnya.
Tags: Barasuara, Synchronize Fest 2026, Karhutla, Musisi Indonesia, Festival Musik, ID MUSIC