Andien Bangun Sekolah Gratis Kelima di Kampung Apung, Modal dari Royalti Lagu
By SingArena Editorial · · Artist Update

Netmediatama / Wikimedia Commons (CC BY 3.0)
Andien Aisyah meresmikan cabang kelima Sekolah Anak Percaya di Kampung Apung, Jakarta, dengan modal awal dari penjualan royalti lagu 'Percaya'. Ia menegaskan komitmennya untuk terus memperluas akses pendidikan bagi anak-anak prasejahtera.
Andien Perluas Gerakan Pendidikan dengan Sekolah Anak Percaya Kelima
Musisi Andien Aisyah kembali menunjukkan komitmennya di dunia sosial. Penyanyi yang dikenal lewat lagu Sahabat Setia ini baru saja meresmikan cabang kelima dari Sekolah Anak Percaya, sebuah fasilitas belajar bebas biaya yang didirikan di kawasan Kampung Apung, Jakarta. Kawasan ini mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pengupas kerang, sebuah komunitas yang jarang tersentuh program pendidikan formal.
Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan gerakan yang pertama kali diinisiasi Andien pada 2022. Saat itu, ia membuka sekolah pertama di Kampung Pemulung, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Kini, dengan cabang kelima, jangkauan Sekolah Anak Percaya semakin luas, menyasar anak-anak yang selama ini terpinggirkan secara administratif maupun geografis.
Modal Awal dari Royalti NFT Lagu 'Percaya'
Pendanaan Sekolah Anak Percaya bukan berasal dari donasi konvensional. Andien mengungkapkan bahwa modal awal proyek ini diperoleh dari penjualan royalti aset digital salah satu karya musiknya yang berjudul Percaya. "Waktu itu lagi zaman COVID, terus aku menjual lagu ini royaltinya secara NFT. Hasil dari NFT tersebut kemudian kami jadikan modal untuk mendirikan Sekolah Anak Percaya," kata Andien saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, belum lama ini.
Langkah ini terbilang inovatif di industri musik Indonesia. Alih-alih mengandalkan donasi atau dana korporat, Andien memanfaatkan teknologi blockchain untuk mengubah karya kreatifnya menjadi sumber pendanaan sosial yang berkelanjutan. Ia membuktikan bahwa royalti musik tidak hanya bisa dinikmati secara pribadi, tetapi juga bisa menjadi motor penggerak perubahan sosial.
Tantangan Membangun Kepercayaan di Kampung Apung
Mendirikan sekolah di kawasan padat seperti Kampung Apung bukan perkara mudah. Andien mengungkapkan bahwa timnya memerlukan waktu pendekatan hingga satu tahun penuh sejak Oktober tahun lalu untuk membangun kepercayaan warga setempat sebelum kegiatan belajar mengajar resmi berjalan. "Dari tahun lalu itu PDKT-nya setahun untuk kita bisa menyelenggarakan proses belajar mengajar di kampung tersebut," tuturnya.
Penemuan lokasi ini bermula dari keprihatinan Andien melihat tingginya angka anak putus sekolah di wilayah perairan tersebut. Ia menyadari bahwa tantangan membuka ruang belajar di kawasan pemukiman padat tidak sebatas persoalan minat belajar anak. Kendala birokrasi dan status kependudukan warga kerap menjadi penghalang utama yang membuat pihak lain enggan masuk.
"Masalahnya sangat berlapis, bukan hanya kemauan akan mengenyam pendidikannya saja, tapi juga ada banyak masalah mengenai misalnya administrasi kependudukan dan lain-lain," jelasnya. Menghadapi kompleksitas tersebut, Andien menegaskan komitmennya untuk memilih terjun langsung mencari jalan keluar bersama masyarakat. "Ya udah kalau memang belum ada solusinya, justru aku yang ingin jadi solusinya. Yuk kita cari solusinya bareng," pungkasnya.
Perjalanan Karier Andien: Dari Jazz hingga Aksi Sosial
Andien, yang memiliki nama lengkap Andini Aisyah Haryadi, lahir di Jakarta pada 25 Agustus 1985. Ia mulai belajar bernyanyi sejak usia tiga tahun dan menempuh pendidikan musik di Elfa Music Studio di bawah asuhan Elfa Secioria. Sejak kecil, ia telah akrab dengan musik jazz, menyukai karya-karya Stan Getz, João Gilberto, Sergio Mendes, Sarah Vaughan, dan Antonio Carlos Jobim.
Karier profesionalnya dimulai pada Februari 2000 dengan album perdana Bisikan Hati yang diproduseri oleh Elfa Secioria. Album ini diperkirakan terjual sekitar 30.000 keping. Dua tahun kemudian, ia merilis Kinanti (2002), disusul Gemintang (2005). Pada pertengahan 2010, Andien meluncurkan album Kirana, yang namanya diambil dari salah satu judul lagu di album tersebut. Dalam bahasa Sanskerta, Kirana berarti "cahaya" atau "sinar". Album ini dianggap sebagai cerminan hati dan pikirannya, serta menandai pertama kalinya ia terlibat langsung dalam produksi sebuah album, bekerja sama dengan Nikita Dompas dan Rifka Rachman.
Selain karier solo, Andien juga tergabung dalam grup vokal wanita 5 Wanita bersama Iga Mawarni, Nina Tamam, Rieka Roeslan, dan Yuni Shara. Pada 2025, ia diumumkan sebagai salah satu pemeran pendukung dalam drama musikal keluarga berjudul City of Love, The Cinematic Musical.
Dampak dan Harapan untuk Pendidikan Indonesia
Langkah Andien membangun Sekolah Anak Percaya mencerminkan tren baru di kalangan musisi Indonesia yang semakin aktif dalam kegiatan filantropi. Dengan memanfaatkan royalti lagu dan aset digital, ia menciptakan model pendanaan mandiri yang tidak bergantung pada sumbangan pihak ketiga. Hal ini bisa menjadi inspirasi bagi artis lain untuk mengikuti jejak serupa.
Keberhasilan mendirikan lima cabang sekolah gratis dalam kurun waktu beberapa tahun menunjukkan dedikasi Andien yang serius. Ia tidak hanya hadir sebagai penyanyi, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial. Bagi warga Kampung Apung, kehadiran Sekolah Anak Percaya membawa harapan baru bagi anak-anak yang sebelumnya kesulitan mengakses pendidikan layak.
Dengan terus memperluas jangkauan, Andien berharap semakin banyak anak Indonesia yang bisa merasakan manfaat pendidikan tanpa terkendala biaya atau status administratif. Gerakan ini pun menjadi bukti bahwa musik dan kepedulian sosial bisa berjalan seiring.
Tags: Andien, Sekolah Anak Percaya, Musisi Indonesia, Filantropi, Pendidikan, ID MUSIC